Instagram

Senin, 29 Februari 2016

Tidak Berdusta

Dusta adalah kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan sudah semestinya bagi setiap muslim agar menghindarinya dalam pergaulannya. Allah Ta’ala berfirman:
…وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al-Isra’: [17]: 36).
Malik menyampaikan bahwa Ibnu Mas’ud berkata:Seorang hamba yang berdusta dan terus-menerus berdusta maka akan terlukis satu titik hitam di hatinya sampai rata hatinya berwana hitam, maka dia di sisi Allah akan ditulis termasuk golongan pendusta.” (HR. Malik dalam kitab Al-Muwatha’).
Dalam masalah ini, saya ingatkan kepada setiap orang Islam agar tidak berdusta dalam segala perkara, bahkan meskipun dengan bergurau. Hendaknya dicamkan dalam diri mereka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Tidak sempurna iman seorang hamba sampai dia meninggalkan berdusta dalam gurauan dan meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bergurau dengan para sahabatnya, beliau tidak berkata kecuali yang benar dan jujur, seperti tertera dalam sebuah kisah berikut:
Dari Hasan radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Datanglah seorang wanita tua kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam surga’. Maka Rasulullah menjawab, ‘Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh orang yang renta.’ Hasan melanjutkan, “Maka wanita itu berbalik pergi sambil menangis, kemudian Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda, ‘Beritahukan kepadanya kalau dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua renta. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.’” (Al-Waqi’ah [56]: 35-37)” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki minta tumpangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Saya akan memberimu tumpangan di atas seekor anak unta.” Orang tadi keheranan dan bertanya, “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukankah yang melahirkan unta dewasa itu adalah anak unta juga?
Yang menyedihkan bagi seorang Islam adalah adanya sebagian orang yang membuat tertawa orang lain dengan sengaja berbohong, seperti banyak kita saksikan di masyarakat dan grup-grup sandiwara dan lawak.
Dalam sebuah hadits dari Nahzi bin Hakim radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Celakalah seseorang yang berkata lalu berbohong agar ditertawakan oleh suatu kaum, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Al-Baihaqi).
Berkatalah yang benar dan selalu berusahalah untuk berkata benar sampai kamu ditulis di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Berhati-hatilah dari berdusta, karena dusta bisa berakiba kepada timbulnya kerusakan-kerusakan besar dan fitnah yang besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tadi malam bermimpi didatangi oleh dua orang dan keduanya memberitahuku, “Orang yang dirobek bibirnya dan lidahnya seperti yang kamu lihat tadi adalah pendusta yang membuat kedustaan dan disebarkannya ke seluruh penjuru. Maka dia akan terus diadzab seperti itu sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari).
Seorang penyair telah memperingatkan manusia dari berdusta dan akibatnya, dan hal itu merupakan aib bagi pelakunya ketika diketahui kedustaannya, sehingga akan mengakibatkannya rendah dan hina di hadapan manusia. Penyair tersebut berkata:
Jika manusia itu diketahui berdusta, maka di hadapan manusia
Akan tetap saja dicap sebagai pendusta, walaupun dia berkata benar
Jika dia berkata, ucapannya akan diabaikan kawan-kawannya
Mereka tidak akan mendengarkannya walaupun hanya satu kata
Dalam menjelaskan kotornya perbuatan dusta dan menganjurkan untuk menjauhinya, penyair lain berkata:
Tidaklah berdusta seseorang melainkan itu merupakan kehinaanya
Atau perbuatan buruk, atau tanda tidak beradab
Sebagian bangkai anjing lebih enak baunya
Daripada kedustaan seseorang dalam seriusnya maupun guraunya

Sabtu, 27 Februari 2016

Selalu Berdoa Kepada Allah






            Ciri-ciri wanita shalihah adalah salah satunya adalah wanita yang biasa berdoa kepada Alla, memohon petunjuk-Nya dan hidayah-Nya, selalu memohon ampun kepada Allah, baik diwaktu senang atau dalam waktu susah.
            Doa termasuk ciri khas orang-orang shaleh, karena doa dapat difungsikan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan termasuk salah satu ibadah sangat bermanfaat bagi orang yang berdoa itu sendiri, dan juga bermanfaat bagi orang lain. Bahkan doa adalah inti dari pada ibadah.
            Rasulullah saw. bersabda :

اَلدُّ عاَءُ مُخُّ الْعِبَا دَ ةِ

            “Doa itu adalah inti ibadah.” (HR Tirmidzi dari Anas bin Malik).
            Doa adalah lambang pernyataan tentang kekurangan manusia yang ada pada dirinya, sekalipun bagaimana kaya dan gagahnya, namun manusia masih behajat kepada pertolongan Allah. Bahkan Allah murka kepada orang-orang yang tidak mau berdoa, sebaba orang yang tidak mau berdoa itu menunjukan diirinya sombong dan telah merasa cukup dan mampu. Dengan kemurkaan Allah Ta’ala ini menunjukan, bahwa doa itu wajib dilakukan oleh manusia.
            Dalam hadist Qudsi disebutkan:

مِنْ لاَ يَدْ عُوْنِيْ اَغْضَبْ عَلَيْهِ

            “Barang siapa yang tidak berdoa kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya”(HR. Askari yang bersumber dari Abu Hurairah ra dengan sanad hasan).
            Menurut Imam Ghazali, bahwa adab berdoa itu adalah :
1.      Dilakukan pada waktu yang mulia. Seperti hari Arafah, bulan Ramadhan waktu sahur, dan hari Jum’at.
2.      Dilakukan dalam keadaan yang khidmat, seperti : waktu sujud, ketika hati tenang, dan bersih dari gangguan setan.
3.      Menghadap kiblat dan mengangkat tangan.
4.      Merendahkan suara sekedar dapat didengar sendiri atau orang yang ada didekatnya.
5.      Memakai bahasa yang sederhana yang menunjukan kerendahan hati. Lebih diutamakan doa-doa yang berasal dari Nabi saw, atau sahabat atau tabi’in yakni doa yang matsur.
6.      Dilakukan dengan khusyuk dan tawadluk (merendahkan diri)
7.      Meyakini doanya di kabulkan Allah, tidak kecewa atau gelisah apabila doanya belum dikabulkan.
8.      Mengulangi doanya sampai tiga kali, dengan penuh keyakinan.
9.      Memulai doa dengan menyebut asma Allah, alhamdulillah, dan shalawat atas Nabi saw.
10.  Bertobat sebelum berdoa, menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah.
11. Memakan makanan yang halal, berpakaian yang bersih dan berasal dari yang halal, dan tidak berdoa yang mustakhil atau mencelakakan orang, kecuali orang dzalim.

- Al-Hanif, Abu Rifqi dkk. Tanpa Tahun. Analisis Ciri-ciri Wanita Shalihah. Surabaya: Terbit  Terang.


Selasa, 23 Februari 2016

Menyanyi dan Pendapat Imam Tentang Menyanyi




Bangsa kita senang pada nyanyian. Mereka menganggapnya suatu kesenian. Dan diketahuinya diri mereka sendiri dengan menciptakan hukum-hukum dan prinsip-prinsip. Mereka beri kedudukan kedudukan yang empuk untuk para biduwanita ditengan masyarakat. Mengalirkan jutaan rupiah ke kantong mereka, bahkan mereka disejajarkan dengan kaum intelek. Maka semakin hanyutlah masyarakat dibuai nyanyian mereka.
Dan kaum wanitalah yang mereka peralat. Dengan iming-iming duit, mereka dibujuk agar mau terjun ke dunia tarik suara, dan berhasil. Padahal Islam sebearnya melarang sama sekali orang bernyanyi, baik itu laki-lai maupun orang perempuan. Dari nyanyianlah timbul berbagai kerusakan yang berat, sementara orang semakin terdorong melakukan tindakan haram.



Pendapat Empat Imam Tentang Menyanyi

Asy-Syafi’i ra berkata :” Pemilik budak perempuan kalau menyuruhnya bernyanyi agar orang berhimpun mendengarkannya, maka dia itu safih (tidak sempurna akal) yang tidak diterima kesaksinnya.”
Sedang Imam Malik Rahimahullah juga melarang menyanyi, katanya :” Kalau seseorang membeli budak perempuan yang ternyata seorang penyanyi, maka dia boleh mengembalikannya kepada penjual, karena dianggap bercacat. Dan agaknya pendapat ini adalah madzhab seluruh penduduk Madinah, selain Ibrahim bin Sa’ad.”

Adapun Imam Abu Hanifah, dia pun tidak menyukai nyanyian dan beranggapan, bahwa mendengarkan nyanyian adalah suatu dosa.

Demikian pula Imam Ahmad bin Hambal, ada riwayat mengeni beliau, bahwa Abdullah (putera Imam) bercerita:
”Saya bertanya kepada ayahku tentang bernyanyi , maka jawabnya :”Nyanyian itu menumbuhkan nifaq dalam hati. Aku tidak tertarik dengannya”.

Adapun pandangan Imam-Imam yang lain, antara lain Imam Al-Ghazali dalam kitabnya ‘Al-Ihyaa’ berkata:” Al-Qadhi Abu Thayib berpendapat, bahwa mendengarkan nyanyian dari seseorang wannita yang bukan muhrim, menurut para sahabat Asy-Syafi’i dalm keadaan bagaimanapun tetap tidak boleh , sekalipun wanita itu tertutup auratnya atau terhalang di balik tabir, begitu pula balik wanita itu merdeka atau budak”.

Kemudian bagaimanpun pandangan Imam Ibnu Hajar. Beliau mengatakan :”Mendengarkan nyanyian dari wanita merdeka maupun budak yang bukan muhrim, adalah haram. Hal ini berdasarkan pandangan kita (Ulama Syafi’i) bahwa suara wanita itu urat, baik dikhawatirkan bakal menimbulkan godaan atau tidak. Dalam pada itu perkataan Syaikhain (An Nawawi dan Ar-Rafi’i) dalam “Ar-Raudhah” yang aslinya terdapat pada tiga tempat, kesimpulannya bahwa pendapat inilah yang lebih kuat dalam mazhab kita.
Begitu pula Al-Qadhi Abu Thayib, pemuka sahabat-sahabat kita menukil dari mereka kata-kata:

وَلَوْ مِنْ وَرَآءِحِجَابِ

(Maksudnya : sekalipun nyanyian itu dinyanyikan perempuan dari balik tabir, tetap haram)
Dan termasuk yng mengharamkan soal nyanyian ini adalah Al-Qadhi Husain. Bahkan menurut pengakuannya, dalam masalah ini tak ada perbedaan pendapat, dan dasarnya adalah sebuah hadits shahih:

مَنِ ا سْتَمَحَ اِ لىَ فَيْنَةٍ صُبَّ فِى اُ ذُ نِهِ اْلآ نُكُ
Barang siapa mendengaran seorang biduwanita, maka bakal dituangkan ke dalam telinganya cairan timah”


- Al-Hanif, Abu Rifqi dkk. Tanpa Tahun. Analisis Ciri-ciri Wanita Shalihah. Surabaya: Terbit  Terang.
- https://www.google.co.id/search?q=wanita+muslimah+yang+menyanyi&biw=1366&bih=606&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiLs_XZ4eXKAhXQT44KHWOqCe4Q_AUIBigB

Rabu, 17 Februari 2016

Selalu Berhubungan dengan Allah Azza wa Jalla






Ada beberapa cara agar seorang hamba selalu berhubungan dengan Allah Azza wa Jalla, dan jika hamba meninggalkan jalan-jalan ini maka tidak tergolong hamba yang baik. Artinya, kalau seorang wanita tidak selalu berhubungan dengan Allah, berbuat dan beramal tidak untuk Allah, maka bukanlah termasuk wanita yang shalihah. Beberapa jalan untuk menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala adalah:

1.     Dzikrullah (mengingat Allah)

Syarat yang pertama untuk menjadi wanita shalilah adalah dengan dzikir kepada Allah, yaitu mengagungkan Allah, mensucikan-Nya, mengucap “Allah Allah”, membaca tasbih “Subhanaallah, subhanaallah”, melakukan pujian kepada-Nya, dan apapun yan diperbuat tidak lain hanya untuk beribadh kepada Allah. Dzikir kepad Allah dapat dilakukan dengan lisan dan hati. Yaitu
a.       Dzikir dengan lisan berarti menyebut nama-Nya berulang kali, menyebut sifat-sifat-Nya berulang kali, atau puji-pujian kepda-Nya.
b.      Dzikir kepada Allah dengan hati, yaitu mengahdirkan kebesaran dan keagungan-Nya di dalam diri dan jiwanya sendiri, sehingga mendarah daging.

Secara umum manfaat dzikir adalah sebagai berikut:
·         Memperlunak hati manusia sehingga hati manusia dapat melihat kebenaran dan bersedia mengikuti dan menerima kebenaran itu.
·         Membangkitkan kesadaran bahwa Allah Maha Pengatur dan apa yang telah ditetapkan-Nya adalah baik.
·         Meningkatkan mutu yang telah dikerjakan, karena suatu aml perbuatan tidak dinilai oleh Allah dari lahirnya saja, tetapi Allah menilai dari segi keikhlasan hamba-Nya dalam beramal.
·         Memelihara diri dari godaan setan, karena setan hanya dapat menggoda dan menipu manusia yng lupa pada Allah.

Dalam Al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menyuruh untuk berdzikir kepada Allah, diantaranya adalah :

وَاْذكُرْرَبَّكَ كَثِيْرًاوَّسَبِّحْ بِاْلعَثِىِّ وَاْلاِبْكَارِ
“ Dan ingatlah sebanyak-banyaknya kepada Tuhanmu dan ucapkan tasbih sore dan pagi”. (QS. Ali Imran : 41)

وَاْذكُرْرَبَّكَ فِىْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّحِيْفَةً
“Dan ngatlah kepada Tuhanmu di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan takut”. (QS. Al-A’raf : 205)






2.     Mendekat Kepada Allah

Syarat yang kedua untuk menjadi wanita shalihah adalah mendekat kepada allah Azza wa Jalla. Adapun yang dimaksud dengan mendekat kepad Allah adalah bahwa seorang hamba tahu sepenuhnya bahwa allah selalu melihatnya, dan apapun yang dilakukan selalu dalam pandangan dan tilikan allah, bahakan apa saja yang terlintas dalam hati diketahuioleh Allah. mendekat kepada Allah adalah suatu kewajiban bagi setiap hamba, baik laki-laki maupun wanita. Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“ Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-Alaq: 19)

3.     Takut Kepada Allah

Syarat yang ketiga untuk menjadi wanita shalihah adalah takut kepada Allah, karena takut kepada Allah adalah salah satu dari sifat-sifat orang mukmin, dan dapat mendorong untuk meningkatkan amal ibadah kepada-Nya. Bahkan dengan sifat takut kepada Allah itu akhirnya timbul perasaan dalam jiwanya bahwa dirinya selalu diliputi oleh pengawasan Allah dan tidak akan berani berbuat yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah takut kepada Allah Ta’ala adalah sikap mental yang mendorong orang bersikap zuhud, sebab dengan timbulnya sifat ini manusia akan merasa bahwa segala gerak-geriknya itu senantiasa dalam pandangan Allah. Allah Ta’ala berfirman :

وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
“Dan takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 75)

Dalam ayat lain disebutkan, bahwa orang yang takut kepada Allah akan memperoleh surga, sebagaimana firmn-Nya:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)

4.     Takut Kepada Siksa Allah

Syarat keempat untuk menjadi wanita shalihah adalah takut terhadap siksa Allah jika hari kiamat telah terjadi. Dengan takut kepada siksa Allah, maka seorang wanita akan selalu tunduk kepada syariat-Nya, tidak berani mengerjakan larangan-larangan-Nya. Dan takut kepada siksa adalah suatu ajaran yang diberikan kepada manusia, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ اِنِّى اَخَا فُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurkai Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 15)

- Al-Hanif, Abu Rifqi dkk. Tanpa Tahun. Analisis Ciri-ciri Wanita Shalihah. Surabaya: Terbit  Terang.